Sabtu, 12 Juni 2010

DIMENSI KAJIAN FILSAFAT ILMU DAN IMPLEMENTASINYA DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN


1. DEFINISI FILSAFAT

Kata “filsafat” berasal dari bahasa Yunani, philosophia: philein artinya cinta, mencintai, philos pecinta, sophia artinya kebijaksanaan atau hikmat. Jadi filsafat artinya “cinta akan kebijaksanaan”. Cinta artinya hasrat yang besar atau yang berkobar-kobar atau yang sungguh-sungguh. Kebijaksanaan artinya kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya. Jadi Filsafat berarti hasrat atau keinginan yang sungguh akan kebenaran sejati.

Definisi filsafat menurut beberapa ilmuwan antara lain:
1. PLATO
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat untuk mencapai kebenaran yang asli artimya kebenaran yang telah dibuktikan secara nyata.
2. ARISTOTELES
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, estetika.
3. DESKARTES
Filsafat adalah kumpulan dari segala pengetahuan dimana Tuhan, alam dan manusia sebagai bidang penelitian.
4. IMMANUEL CANT
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pangkal pokok dari segala pengetahuan.
5. AL FARABI
Filsafat adalah pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakikat yang sebenarnya.

Ada empat macam persoalan dalam filsafat:
1.
Apa yang dapat kita ketahui?
Jawaban dari pertanyaan tersebut terdapat dalam filsafat tentang metafisika.
2. Apa yang harus kita ketahui?
Jawaban ada pada filsafat tentang etika.

3. Sampai dimana harapan kita?
Jawaban ada pada filsafat tentang agama.
4. Apa yang dinamakan manusia?
Jawaban ada pada filsafat tentang antropologi.

2. DIMENSI KAJIAN FILSAFAT ILMU

* Pengertian Filsafat Ilmu

Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam Filsafat Ilmu, yang disusun oleh Ismaun (2001)
* Robert Ackerman : Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi
filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual

* Lewis White Beck : Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan

* Michael V. Berry : Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.

Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari beberapa segi kajian, yaitu :

A. Ontologi
Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada.

Dalam kaitan dengan ilmu, landasan ontologi mempertanyakan tentang objek yang ditelaah oleh ilmu, bagaimana wujud hakikinya, serta bagaimana hubungannya dengan daya tangkap manusia yang berupa berpikir, merasa, dan meng-indera yang membuahkan pengetahuan.

Objek telaah Ontologi tersebut adalah yang tidak terlihat pada satu perwujudan tertentu, yang membahas tentang yang ada secara universal, yaitu berusaha mencari inti yang dimuat setiap kenyataan yang meliputi segala realitas dalam semua bentuknya. Adanya segala sesuatu merupakan suatu segi dari kenyataan yang mengatasi semua perbedaan antara benda-benda dan makhluk hidup, antara jenis-jenis dan individu-individu.
Dari pembahasannya memunculkan beberapa pandangan yang dikelompokkan dalam beberapa aliran berpikir, yaitu:
1.
Materialisme;
Aliran yang mengatakan bahwa hakikat dari segala sesuatu yang ada itu adalah materi. Sesuatu yang ada (yaitu materi) hanya mungkin lahir dari yang ada.
2. Idealisme (Spiritualisme);
Aliran ini menjawab kelemahan dari materialisme, yang mengatakan bahwa hakikat pengada itu justru rohani (spiritual). Rohani adalah dunia ide yang lebih hakiki dibanding materi.

3. Dualisme;
Aliran ini ingin mempersatukan antara materi dan ide, yang berpendapat bahwa hakikat pengada (kenyataan) dalam alam semesta ini terdiri dari dua sumber tersebut, yaitu materi dan rohani.
4. Agnotisisme.
Aliran ini merupakan pendapat para filsuf yang mengambil sikap skeptis, yaitu ragu atas setiap jawaban yang mungkin benar dan mungkin pula tidak.

B. Epistemologi
Objek telaah epistemologi adalah mempertanyakan bagaimana sesuatu itu datang dan bagaimana mengetahuinya, bagaimana membedakan dengan yang lain. Jadi berkenaan dengan situasi dan kondisi ruang serta waktu tentang sesuatu hal. Landasan epistemologi adalah proses apa yang memungkinkan mendapatkan pengetahuan logika, etika, estetika, bagaimana cara dan prosedur memperoleh kebenaran ilmiah, kebaikan moral dan keindahan seni, serta apa definisinya.
Epistemologi moral menelaah evaluasi epistemik tentang keputusan moral dan teori-teori moral.
Dalam epistemologi muncul beberapa aliran berpikir, yaitu:
1. Empirisme;
Yang berarti pengalaman (empeiria), dimana pengetahuan manusia diperoleh dari pengalaman inderawi.
2. Rasionalisme;

Tanpa menolak besarnya manfaat pengalaman indera dalam kehidupan manusia, namun persepsi inderawi hanya digunakan untuk merangsang kerja akal.
Jadi akal berada diatas pengalaman inderawi dan menekankan pada metode deduktif.

3. Positivisme;
Merupakan sistesis dari empirisme dan rasionalisme.
Dengan mengambil titik tolak dari empirisme, namun harus dipertajam dengan eksperimen, yang mampu secara objektif menentukan validitas dan reliabilitas pengetahuan.
4. Intuisionisme.
Intuisi tidak sama dengan perasaan, namun merupakan hasil evolusi pemahaman yang tinggi yang hanya dimiliki manusia. Kemampuan ini yang dapat memahami kebenaran yang utuh, yang tetap dan unik.

C. Aksiologi
Aksiologi adalah filsafat nilai. Aspek nilai ini ada kaitannya dengan kategori:

(1) baik dan buruk; serta

(2) indah dan jelek.

Kategori nilai yang pertama di bawah kajian filsafat tingkah laku atau disebut etika, sedang kategori kedua merupakan objek kajian filsafat keindahan atau estetika.
1. Etika
Etika disebut juga filsafat moral (moral philosophy), yang berasal dari kata ethos (Yunani) yang berarti watak. Moral berasal dari kata mos atau mores (Latin) yang artinya kebiasaan. Dalam bahasa Indonesia istilah moral atau etika diartikan kesusilaan. Objek material etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia, sedang objek formal etika adalah kebaikan atau keburukan, bermoral atau tidak bermoral.
Moralitas manusia adalah objek kajian etika yang telah berusia sangat lama. Sejak masyarakat manusia terbentuk, persoalan perilaku yang sesuai dengan moralitas telah menjadi bahasan. Berkaitan dengan hal itu, kemudian muncul dua teori yang menjelaskan bagaimana suatu perilaku itu dapat diukur secara etis.

Teori yang dimaksud adalah Deontologis dan Teologis.
a. Deontologis.
Teori Deontologis diilhami oleh pemikiran Immanuel Kant, yang terkesan kaku, konservatif dan melestarikan status quo, yaitu menyatakan bahwa baik buruknya suatu perilaku dinilai dari sudut tindakan itu sendiri, dan bukan akibatnya.
Suatu perilaku baik apabila perilaku itu sesuai norma-norma yang ada.

b. Teologis
Teori Teologis lebih menekankan pada unsur hasil. Suatu perilaku baik jika buah dari perilaku itu lebih banyak untung daripada ruginya, dimana untung dan rugi ini dilihat dari indikator kepentingan manusia.

Teori ini memunculkan dua pandangan, yaitu egoisme dan utilitarianisme (utilisme). Tokoh yang mengajarkan adalah Jeremy Bentham (1742 – 1832), yang kemudian diperbaiki oleh john Stuart Mill (1806 – 1873).
2. Estetika
Estetika disebut juga dengan filsafat keindahan (philosophy of beauty), yang berasal dari kata aisthetika atau aisthesis (Yunani) yang artinya hal-hal yang dapat dicerap dengan indera atau cerapan indera. Estetika membahas hal yang berkaitan dengan refleksi kritis terhadap nilai-nilai atas sesuatu yang disebut indak atau tidak indah.
Dalam perjalanan filsafat dari era Yunani kuno hingga sekarang muncul persoalan tentang estetika, yaitu: pertanyaan apa keindahan itu, keindahan yang bersifat objektif dan subjektif, ukuran keindahan, peranan keindahan dalam kehidupan manusia dan hubungan keindahan dengan kebenaran. Sehingga dari pertanyaan itu menjadi polemik menarik terutama jika dikaitkan dengan agama dan nilai-nilai kesusilaan, kepatutan, dan hukum.

. Permasalahan-permasalahan dalam pendidikan cukup beragam. Mulai dari persoalan mendasar mengenai perencanaan pendidikan, pengorganisasian, kepemimpinan, serta pengawasan pendidikan. Sehingga dibutuhkan penguasaan untuk mengkaji masalah-masalah, kelemahan, dalam mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
Pendidikan lebih banyak mengarah kepada manusia. ”Hanya manusia yang bisa dididik” ( Nurcholis Majid.) Sehingga upaya – upaya pendidikan kepada manusia harus mengacu kepada hakekat tujuan pendidikan manusia itu sendiri. Kompleksitas pendidikan yang akan diterapkan kepada manusia, sejalan dengan kompleksitas pemahaman terhadap manusia.
Hal ini mengingat manusia merupakan sebuah makhluq teramat canggih dari Sang Pencipta. Persoalan tentang apa itu fikiran, akal, jiwa, fisik manusia sendiri cukup demikian rumitnya. Sehingga penerapan ilmu untuk mendidik manusia dengan kompleksitas tersebut akhirnya beragama.

3. IMPLEMENTSI FILSAFAT DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN

A. Pengertian

Pendidikan , dalam konteks keberadaan dan hakekat kehidupan manusia, merupakan pembentukan kepribadian manusia, yaitu mengembangkan manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial, makhluk susila, dan makhluk beragama (religius). Dengan melihat aspek yang demikian luas yang akan dicapai oleh pendidikan, maka pengaturan atau manajemen terhadapnya, mutlak diperlukan. Mulai manajemen peserta didik, pendidik (sebagai elemen sentral) , proses pendidikan, biaya pendidikan, serta beberapa komponen dalam pendidikan lainnya

Kebaikan tanpa dimanaje dengan baik akan dikalahkan dengan keburukan yang dimanaje dengan baik. Demikian pula, pendidikan yang notabene diarahkan kepada kebaikan tidak akan berarti apa-apa , jika tidak diatur dengan baik. Manajemen atau pengaturan, amat menentukan terhadap hasil yang akan dicapai oleh suatu pendidikan.
. Permasalahan-permasalahan dalam pendidikan cukup beragam. Mulai dari persoalan mendasar mengenai perencanaan pendidikan, pengorganisasian, kepemimpinan, serta pengawasan pendidikan. Sehingga dibutuhkan penguasaan untuk mengkaji masalah-masalah, kelemahan, dalam mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
Pendidikan lebih banyak mengarah kepada manusia. ”Hanya manusia yang bisa dididik” ( Nurcholis Majid.) Sehingga upaya – upaya pendidikan kepada manusia harus mengacu kepada hakekat tujuan pendidikan manusia itu sendiri. Kompleksitas pendidikan yang akan diterapkan kepada manusia, sejalan dengan kompleksitas pemahaman terhadap manusia. Hal ini mengingat manusia merupakan sebuah makhluq teramat canggih dari Sang Pencipta. Persoalan tentang apa itu fikiran, akal, jiwa, fisik manusia sendiri cukup demikian rumitnya. Sehingga penerapan ilmu untuk mendidik manusia dengan kompleksitas tersebut akhirnya beragama.

Tidak hanya sekedar psikologi, paedagogi, sosiologi, biologi, morfologi, seni, kosmologi , neurology dan banyak cabang ilmu lain yang digunakan sebagai upaya untuk mendidik manusia.Dari sisi ini sangat difahami, jika untuk mendidik manusia dibutuhkan tingkat kerumitan tingkat tinggi. Dalam konteks pendidikan di sebuah sekolah, universitas maupun pondok pesantren misalnya, pendidikan yang diterapkan membutuhkan perencanaan yang matang, pengorganisasian yang kuat, kepemimpinan yang memberdayakan seluruh civitas akademika, juga evaluasi yang cermat.
Permasalahan-permasalahan dalam pendidikan cukup beragam. Mulai dari persoalan mendasar mengenai perencanaan pendidikan, pengorganisasian, kepemimpinan, serta pengawasan pendidikan. Sehingga dibutuhkan penguasaan untuk mengkaji masalah-masalah, kelemahan, dalam mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Persoalan mikro dan makro pendidikan akan nampak. Dengan melihat permasalahan secara komprehensif, keputusan akhir yang diambil menunjukkan aspek manajemen sesungguhnya



B. Pandangan Tentang Manajemen
Dubrin (dalam Wibowo, 2007 :10) menyatakan bahwa manajemen mempunyai tiga pengertian lain yaitu :
1. Manajemen sebagai disiplin atau bidang studi. Mananejemen merupakanm bidang pengetahuan seperti pengetahuan lainnya yang dapat dipelajari. Kebanyakan eksekutif puncak menguasai manajemen. Mempelajari manajemen menghasilkan return on ivestment yang sangat besar
2. manajemen sebagai orang. Manajemen juga mengindikasikan manajer secara kolektif dalam suatu organisasi, yaitu individu yang menjalankan manajemen
3. manajemen sebagai karier. Banyak 0rganisasi merekrut lulusan PT dengan menawarkan peluang karier dalam manajemen. Serangkaian pekerjaan secara progressif mengarahkan pada tanggung jawab yang lebih besar apabila calon menunjukkan kompetensi manajerial.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah proses penggunaan sumberdaya organisasi dengan menggunakan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien (wibowo, 2007)
Robbin dan Coultar (dalam Wibowo, 2007 : 9) memberikan definisi manajemen sebagai suatu proses untuk membuat aktivitas terselesaikan secara efektif dan efisien dengan dan melalui orang lain.

Terkait efektivitas dan efisiensi, Drucker menekankan perbedaan penting, antara efektifitas (melakukan hal yang benar ) dan efisiensi (melakukan hal dengan benar) (Heller, 2003).
“Manajemen adalah menyangkut manusia. Tugasnya untuk membuat orang mampu bekerjasama, membuat keunggulan mereka bermanfaat, dan kelemahan mereka tidak relevan. Inilah tujuan organisasi, dan inilah alasannya mengapa manajemen adalah…faktor yang menentukan “ The New Realitas (dalam Heller, 2003 : 18)

C. Pandangan Tentang Pendidikan
Pendidikan, hendaknya berkisar antara dua dimensi hidup;

(1) penanaman rasa taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan (2) pengembangan rasa kemanusiaan kepada sesama, ( Prof. Nurcholis Madjid di dalam pengantar buku Menuju Masyarakat Belajar (Sidi, 2001). Sehingga titik tekan pendidikan kepada penanaman rasa taqwa kepada Tuhan, merupakan sumber hakiki manusia. Karena pada prinsipnya manusia itu lemah dan serba tergantung. Ketergantungan itu ditegaskan oleh Schleimarcher (dalam Cassier:1990), “perasaan manusia tergantung secara mutlak pada Yang Illahi”.
Sehingga, pendidikan dalam konteks ini dipahami :
“suatu upaya untuk memperkenalkan manusia akan eksistensi dirinya, baik sebagai diri pribadi yang memiliki ‘hurriyat al iradah’, yang hidup bersama dengan makhluk-makhluk yang lain , maupun sebagai hamba Tuhan yang terikat oleh hukum normatif (syariat / din-nullah), dan sekaligus sebagai ‘wakil Tuhan’ yang dibebani suatu tanggung jawab kosmis.
(Purwadi, 2002. :127).
Sebagaimana dikatakan Nanang Fattah (2006: 5), kehidupan relegius dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa (yang) dapat menghayati dan mengamalkan ajarannya sesuai dengan agamanya, dapat terwujud melalui pendidikan.

Lebih lanjut Jalaludin (2001:48) dengan mengacu kepada prinsip penciptaan, maka menurut filsafat pendidikan Islam, manusia adalah makhluk yang berpotensi dan memiliki peluang untuk dididik.
Pada akhirnya, arah pendidikan bila dikaitkan dengan keberadaan dan hakekat kehidupan manusia, yakni ” untuk pembentukan kepribadian manusia, yaitu mengembangkan manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial, makhluk susila, dan makhluk beragama (religius) ” ( Nanang Fattah (op.cit).

Pendidikan yang notabene meliputi keseluruhan tingkah laku manusia tersebut, dilaksanakan demi memperoleh kesinambungan, pertahanan dan peningkatan hidup .
Sejalan dengan hakekat pendidikan, manusia akan cenderung untuk akan mencari makna dan motivasi tujuan utama hidupnya. Viktor Frankl (dalam Johnson ,2007:62) mengatakan ”Pencarian seseorang akan makna adalah motivasi utama dalam hidupnya...dan hanya dapat dipenuhi oleh dirinya sendiri ”.
Persoalan-persoalan pendidikan demikian kompleks. Kompleksitas tersebut baik secara mikro yang bersifat essensi meliputi guru (pendidik) dan murid (peserta didik). Secara makro, persoalan tentang tujuan dan prioritas pendidikan, keberadaan siswa, manajemen pendidikan, sturktur dan jadwal, adanya alat bantu belajar , fasilitas, teknologi , pengawasan mutu pendidikan, penelitian dan pengembangan serta pembiayaan.
Semua hal tersebut merupakan satu kesatuan. Bersifat sistemik dan saling tergantung satu sama lain.
Dalam konteks realitas pendidikan nasional Indonsia ,Indra Jati Sidhi (2001 : 13) menganalisis bahwa system pendidikan nasional yang telah dibangun selama tiga dasawarsa terakhir ini, ternyata belum mampu sepenuhnya menjawab kebutuhan dan tantangan nasional dan global dewasa ini.

Melihat demikian ragamnya sebuah pendidikan, maka tidak bisa tidak, sebuah manajemen atas pendidikan tersebut harus dan wajib dilaksanakan. Kerusakan parah dalam sektor pendidikan lebih banyak disebabkan karena kacaunya sistem pendidikan. Upaya-upaya perbaikan mutu pendidikan melalui manajemen pendidikan yang baik diharapkan terus dilaksanakan. Sebagaimana prinsip kai zen yakni perbaikan terus menerus, khususnya dalam manajemen pendidikan , diharapkan mampu memberikan kontribusi besar terhadap wilayah cakupan pendidikan, khususnya terhadap manusia dan tentu saja bagi kemanusiaan itu sendiri.

D. Implementasi Manajemen Pendidikan Dalam Pelaksanaan Tugas

Pada dasarnya penerapan ataupun pelaksanaan tugas ”mendidik” yang dilakukan oleh seorang guru ” hanya guru itu sendiri yang tahu” dalam arti bahwa pelaksanaan tugas itu tergantung dari apa yang menjadi ”motivasi”( niat ) dan ” tujuan ” semula dari guru itu sendiri. Dalam hal ini ada guru yang:

- ’semula tidak tahu bahwa dia akan menjadi guru’,

- semula menganggap menjadi guru itu’ mudah’

- menjadi guru karena ingin punya pekerjaan dan penghasilan tetap

- sejak kecil bercita –cita menjadi guru

- merasa terpanggil untuk mengabdikan dirisebagai guru , dll.

Konteks diatas senantiasa akan menjadi acuan pelaksanaan tugas seorang guru apabila tidak ada hal – hal yang mampu meng’counter’nya baik secara intern maupun ekstern.

Berdasarkan pengalaman dapat dikemukakan beberapa hal sehubungan dengan praktek manajemen pendidikan di antaranya:

- Memanaje perilaku siswa ketika berada dilingkungan sekolah dengan membuat suatu peraturan kehidupan siswa disekolah ( perdupsis) dan memahamkannya kepada seluruh warga sekolah untuk senantiasa melaksanakannya

- Memanaje perilaku guru agar menjadi contoh bagi siswa

- Memanaje kegiatan pembelajaran melalui penerapan PAKEM

- Memanaje hubungan baik dengan orang tua melalui pelaksanaan rapat Komite dan informasi kegiatan sekolah lainnya secara rutin dan berkala.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar