Sabtu, 12 Juni 2010

PERANAN KELUARGA, SEKOLAH, DAN MASYARAKAT DALAM MEMBENTUK KARAKTER ANAK BANGSA

PENDAHULUAN

Karakter adalah watak / perilaku seseorang yang sudah menyatu dan mewarnai diri seorang insan yang terwujud dalam setiap kata maupun perbuatannya di setiap saat.

Karakter terbentuk melalui konsep – konsep yang diperoleh seseorang melalui pengamatan, pengalaman dan duplikasi dari lingkungan dimana ia tumbuh dan berkembang. Hal ini dimulai sejak seseorang mulai mengenal makna setiap kata, isyarat dan tingkah laku orang yang lebih tua dari dirinya yang ada di sekitarnya, yang berulang bahkan menjadi kebiasaan , lalu dalam diri seseorang itu terjadi “penerimaan” atau “penolakan” terhadap apa yang ia terima tadi . Penerimaan yang dimaksud dapat dicontohkan misalnya, seorang anak yang tumbuh dilingkungan orang dewasa yang suka memaki atau bergunjing lalu iapun mengikuti kebiasaan itu tanpa ada “counter “ dari lingkungan lain maka perilaku itu akan terterima dan bisa jadi karakter anak itu nantinya. Namun sebaliknya jika ia mendapat “counter” dari lingkungan lain misalnya dari sekolah, maka akan terjadi penolakan dalam diri anak itu terhadap perilaku tersebut sehingga terbentuk perilaku lain yang lain ( yang baik ) yang kelak membentuk karakter sang anak di kemudian hari.

Lingkungan rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan pada hal – hal yang positif . Sebagaimana disarankan Philips, keluarga hendaklah kembali menjadi school of love, sekolah untuk kasih sayang (Philips, 2000) atau tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang (keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah). Sedangkan pendidikan karakter melalui sekolah, tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata, tatapi lebih dari itu, yaitu penanaman moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya. Pemberian penghargaan (prizing) kepada yang berprestasi, dan hukuman kepada yang melanggar, menumbuh suburkan (cherising) nilai-nilai yang baik dan sebaliknya mengecam dan mencegah (discowaging) berlakunya nilai-nilai yang buruk.

Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter seseorang. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika, estetika untuk pembentukan karakter. Menurut Qurais Shihab (1996 ; 321), situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan di sini, maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal yang sama.

Dengan demikian, jelas bahwa pada dasarnya pendidikan baik di keluarga, sekolah maupun masyarakat sangatlah berperan penting dalam pembentukan karakter seorang anak bangsa. Untuk itu, upaya –upaya apakah yang dapat dilakukan agar apa yang dibentuk melalui pendidikan di tiga lingkungan tersebut membuahkan karakter yang sesuai dengan harapan dan kendala – kendala apakah yang dihadapi ?

PEMBAHASAN

Bagaimana bentuk pendidikan serta konsep – konsep apa yang sering diterima oleh seorang anak di lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat, sedikitnya sudah digambarkan pada pendahuluan di atas, maka pada pembahasan ini , penulis lebih memfokuskan pada contoh – contoh konkrit upaya penerapan konsep yang diharapkan dapat menumbuhkembangkan perilaku yang dapat membentuk karakter anak, serta kendala – kendala yang dihadapi dalam melaksanakan upaya dimaksud.

1. Peran Keluarga

Seperti yang telah dijelaskan, bahwa lingkungan rumah dan keluarga memiliki andil yang sangat besar dalam pembentukan perilaku anak. Untuk itu pastilah ada usaha yang harus dilakukan terutama oleh pihak – pihak yang terkait didalamnya sehingga mereka akan memiliki tanggung jawab dalam hal ini.

Beberapa contoh kebiasaan yang dapat dilakukan di lingkungan keluarga :

- Membiasakan anak bangun pagi, mengatur tempat tidur dan berolahraga

- Membiasakan anak mandi dan berpakaian bersih

- Membiasakan anak turut membantu mengerjakan tugas – tugas rumah

- Membiasakan anak mengatur dan memelihara barang – barang yang dimilikinya

- Membiasakan dan mendampingi anak belajar / mengulang pejaran/ mengerjakan tugas sekolahnya

- Membiasakan anak pamit jika keluar rumah

-. Membiasakan anak mengucap salam saat keluar dari dan pulang ke rumah

-. Menerapkan pelaksanaan ibadah sholat sendiri dan berjamaah

-. Mengadakan pengajian Alquran dan ceramah agama dalam keluarga

-. Menerapkan musyawarah dan mufakat dalam keluarga sehingga dalam diri anak akan tumbuh jiwa demokratis

- Membiasakan anak bersikap sopan santun kepada orang tua dan tamu

- Membiasakan anak menyantuni anak yatim dan fakir miskin

Kendala – kendala yang dihadapi dalam keluarga :

- Tidak ada / kurangnya keteladanan / contoh penerapan yang diberikan oleh orang tua.

- Orang tua atau salah satu anggota keluarga ( orang dewasa ) yang tidak konsisten dalam melaksanakan usaha yang sedang diterapkan

- Kurang terpenuhinya kebutuhan anak dalam keluarga, baik secara fisik maupun psikhis sebab ada ungkapan yang menyatakan bahwa ’kepatuhan anak berbanding sama dengan kasih sayang yang diterimanya’.

- Tempat tinggal yang tidak menetap

2. Peran Sekolah

Jika dilingkungan rumah/ keluarga , anak dapat dikatakan “ menerima apa adanya” dalam menerapkan sesuatu perbuatan, maka dilingkungan sekolah sesuatu hal menjadi “mutlak”adanya, sehingga kita sering mendengar anak mengatakan pada orang tuanya “ Ma, Pa, kata Bu guru/ Pak guru begini bukan begitu “ Ini menunjukkan bahwa pengaruh sekolah sangat besar dalam membentuk pola pikir dan karakter anak, namun hal ini pun bukanlah sesuatu yang mudah tercapai tanpa ada usaha yang dilakukan. Untuk menjadi ‘Bapak dan Ibu’ guru seperti dalam ilustrasi diatas butuh keteladanan dan konsistensi perilaku yang patut diteladani .

Contoh – contoh perilaku yang dapat diterapkan disekolah:

· Membiasakan siswa berbudaya salam, sapa dan senyum :

- Tiba di sekolah mengucap salam sambil salaman dan cium tangan guru.

- Menyapa teman, satpam, penjual dikantin atau cleaning servis di sekolah

- Menyapa dengan sopan tamu yang datang ke sekolah

· Membiasakan siswa berbicara dengan bahasa yang baik dan santun

· Mendidik siswa duduk dengan sopan di kelas

· Mendidik siswa makan sambil duduk di tempat yang telah disediakan, tidak sambil jalan- jalan

· Membimbing dan membiasakan siswa sholat Dhuha dan sholat dzuhur berjamaah di sekolah

Kendala – kendala yang dihadapi di sekolah ;

· Tidak ada / kurangnya keteladanan / contoh yang diberikan

· Guru yang tidak konsisten dalam melaksanakan aturan yang telah ditetapkan

· Lingkungan sekolah yang tidak kondusif untuk pembelajaran

3. Peran Masyarakat

Masyarakat pun memiliki peran yang tidak kalah pentingnya dalam upaya pembentukan karakter anak bangsa. Dalam hal ini yang dimaksud dengan masyarakat disini adalah orang yang lebih tua yang “ tidak dekat “, “ tidak dikenal “ “ tidak memiliki ikatan family “ dengan anak tetapi saat itu ada di lingkungan sang anak atau melihat tingkah laku si anak . Orang – orang inilah yang dapat memberikan contoh, mengajak, atau melarang anak dalam melakukan suatau perbuatan.

Contoh – contoh perilaku yang dapat diterapkan oleh masyarakat :

- Membiasakan gotong royong, misalnya : membersihkan halaman rumah masing – masing, membersihkan saluran air, menanami pekarangan rumah.

- Membiasakan anak tidak membuang sampah dan meludah di jalan , merusak atau mencoret – coret fasilitas umum

- Menegur anak yang melakukan perbuatan yang tidak baik.

Kendala – kendala yang dihadapi dimasyarakat ;

- Tidak ada kepedulian

- Tidak merasa bertanggung jawab

- Menganggap perbuatan anak adalah hal yang sudah biasa

4. Peran Pemerintah

Pemerintah sudah tentu memiliki andil yang besar dalam pembentukan karakter anak bangsa sebab berbagai kebijakan terlahir dari para penentu kebijakan. namun kadang kala ada kebijakan / aturan yang justru tidak disadari dapat memupuk perilaku anak yang tidak baik, contohnya :

- Membuka tempat – tempat hiburan atau taman – taman wisata yang tidak ada pengawasan yang ketat, misal; ada batas jam malam berkunjung, razia KTP bagi yang berpasangan, dsb.

- Menetapkan peraturan tidak merokok ditempat umum/ tertentu, namun saat berdialog langsung dengan para siswa, seorang pejabat justru sambil merokok tidak henti – hentinya atau saat melakukan rapat di ruangan ber AC para pejabat sambil ber asap ria.

- Menekankan disiplin untuk semua kegiatan , tapi kenyataannya masih banyak yang menggunakan “jam karet”.

- Memberikan izin penayangan film- film yang bertajuk film anak di televisi namun tidak memiliki nilai didaktis didalamnya padahal televisi adalah media yang sangat dekat dengan anak.

PENUTUP

A. Kesimpulan :

Apabila kita amati secara garis besar, pencapaian pendidikan nasional kita masih jauh dan harapan, apalagi untuk mampu bersaing secara kompetitif dengan perkembangan pendidikan pada tingkat global. Baik secara kuantitatif maupun kualitatif, pendidikan nasional masih memiliki banyak kelemahan mendasar. Bahkan pendidikan nasional, menurut banyak kalangan, bukan hanya belum berhasil meningkatkan kecerdasan dan keterampilan anak didik, melainkan gagal dalam membentuk karakter dan watak kepribadian (nation and character building), bahkan terjadi adanya degradasi moral.

Untuk itu perlunya upaya – upaya konkrit yang harus segera dilakukan melalui pendidikan agar anak bangsa kita tidak semakin terpuruk oleh kepribadian yang semu yang selama ini membelenggu bahkan sudah membentuk karakter mereka dan upaya ini hendaknya di mulai dari diri orang tua , pendidik , masyarakat dan pemerintah itu sendiri dalam hal ini harus ada niat ikhlas dan bertekad mengubah pola asuh dan perilaku diri sebab inilah modal dalam mengubah perilaku anak bangsa.

B. Saran

Agar upaya dilakukan dapat menunjukkan hasil yang maksimal maka sebagai orang tua, pendidik , masyarakat maupun pemerintah hendaknya dapat:

1. Menunjukkan konsistensi , keteladanan dan pola anutan yang tepat dalam penerapan suatu perilaku yang diharapkan

2. Melakuan kerjasama dengan berbagai pihak untuk mendapatkan hasil yang maksimal

3. Menerapkan semboyan dan bukan hanya menslogankan semboyan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar